Rabu, 16 Mei 2012

KITAB SUCI AGAMA KHONGHUCU


KITAB SUCI AGAMA KHONGHUCU
Kitab suci merupakan suatu pedoman utama bagi para pengikutnya. Karena, dari kitab suci itulah kita dapat mengetahui kebanaran suatu agama. Kitab suci suatu agama adalah kitab yang berisikan ajaran moral yang dapat dijadikan pandangan hidup bagi para pengikutnya. Disamping itu kitab suci suatu agama juga merupakan suatu hal yang sakral dan disucikan oleh para pengikutnya, dihormati dan dijaga otentisitas isinya. Oleh karena itu jika ada orang atau sekelompok orang yang sengaja menodai, menghina kitab suci orang lain, oprang tersebut harus berhadapan dengan pengikutnya.
Dengan melihat kitab suci suatu agama kita dapat mengetahui ajaran agama tersebut, karena tanpa adanya kitab, sulit bagi kita untuk mengetahui apa sebenarnya yang terkandung dalam agama yang mereka anut, tidak hanya itu, kitab suci juga dapat dijadikan bahan dalam membandingkan ajaran suatu agama dengan agama lain. Begitu juga dengan agama Konghucu. Kitab-kitab yang dianggap suci dan dijadikan pedoman bagi kehidupan beragama umat Konghucu adalah “Su Si” (kitab yang empat atau kumpulan dari empat buah kitab) dan Wu Chang atau Ngo King (Lima kitab). Bagian kitab-kitab tersebut adalah sebagai berikut:
A.    Kitab Suci Agama Khonghucu
1.      Su Si (Empat Kitab)
Kitab Su Si ini bahasa aslinya adalah bahasa Mandarin (bahasa nasional Cina). Kitab ini sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh MMATAKIN. Kitab ini selalu dipakai dalam upacara agama Konghucu, seperti dfalam upacara pernikahan dan upacara kematian. Terjemahan dari kitab Su Si ini, baik dalam bentuk dan tebalnya tak ubah seperti alkitab dalam agama Kristen.
Kitab setebal 823 halaman ini dibagi menjadi 4 buah kitab. Pada sampul depan kitab ini ditulis Pat Sing Ciam Kwi (delapan pengakuan iman) dari agama Konghucu. Delapan pengakuan iman ini menyerupai rukun iman yang terdapat dalam agama islam. Salah satu butir dari delapan pengakuan iman dalam agama Konghucu yang mirip dengan ajaram keimanan dalam islam yakni “beriman pada kitab Su Si” yaitu kitab suci agama Konghucu.[1]
Kitab Su Si ini terdiri dari empat buah kitab yang dihimpun menjadi satu kitab. Keempat kitab tersebut adalah:
a.      Kitab Thai Hak (Ajaran Besar)
      Ching Zi adalah murid Khonghucu yang menulis kitab ini dan disusun kembali menjadi 1 bab utama dan 10 bab uraian oleh Zi Hi (masa Neo-Konfusianisme). Kitab ini merupakan kitab panduan pembinaan diri yang berisi tentang etika dalam kehidupan keluarga, masyarakat, Negara, dan dunia.[2]
      Dalam kata pengantar kitab Thai Hak tersebut dikatakan bahwa Thai Hak ini adalah kitab warisan mulia kaum Khong yang merupakan ajaran permulaan untuk memasuki pintu gerbang kebijaksanaan. Dengan mempelajari kitab Thai Hak ini dapat diketahui cara belajar orang zaman dulu. Siapa yang akan mempelajari kitab-kitab lain seperti Lun Yu atau Lun Gi (sabda suci), Tiong Young atau Zhong Young (Tengah Sempurna), dan Bingcu atau Mencius, dapat mulai dengan mempelajari kitab Thai Hak ini.
      Kitab Thai Hak ini terdiri dari 10 bab, dan diawali dengan bab utama. Bab utama terdiri dari 9 ayat: 4 ayat untuk bab I, 4 ayat untuk bab II, 5 ayat untuk bab III, 1 ayat untuk bab IV, 3 ayat untuk bab V, 4 ayat untuk bab VI, 3 ayat untuk bab VII, 3 ayat untuk bab VIII, 9 ayat untuk bab IX, 23 ayat untuk bab X. dengan demikian, jumlah keseluruhan ayat dalam kitab Thai Hak ini adalah 68 ayat.
      Sebagaimana disebutkan sebelumnya, isi dari kitab Thai Hak ini sarat dengan nilai-nilai etika.baik itu yang berhubungan dengan etika dalam kehidupan rumah tangga, maupun etika dalam bernegara.
b.      Kitab Tiong Young (Tengah sempurna)
      Kitab Tiong Young ini terdiri  dari 32 bab dan ditambah dengan bab utama. Tiong Young atau Zhong Young atau The Doctrine of the Mean ini ditulis oleh Zi Shi, yaitu cucu Khonghucu yang kemudian disusun kembali oleh Zi Hi mejadi satu bab utama sebanyak 32 bab uraian.[3] Kitab ini sedah diterjemahka oleh MATAKIN kedalam bahasa Indonesia, dan kemudian diletakan setelah kitab Thai Hak (ajaran besar).
      Diatas telah telah dijelaskan mengenai kitab Tiong young yang artinya tengah sempurna. Apakah yang dimaksud dengan tengah sempurnya itu? Di dalam kata pengantar kitab ini dijeaskan bahwa “tengah” diartikan tepat sasaran, ditambah lagi bahwa “tengah” itu adalah “jalan yang lurus didunia” dan ”sempurna” dalah “hukum tetap disunia”. Dan dapat juga dapat dikatakan bahwa “tengah sempurna” itu adalah berbuat sesuai hukum alam.
      Kegembiraan, kemarahan, kesedihan, dan kesenangan sebelum itu muncul masih dapat dikatakan “tengah”, tapi apabila itu sudah timbul, namun masih dalam batas tengah, ia dapat dikatakan “harmonis”. Tengahdikatakan juga sebagai pokok dari dunia dan keharmonisan dapat dikatakan sebagai cara dalam menempuh jalan suci didunia. Bila tengah dan harmoi tersebut dapat terwujud, sejahtera di langit dan dibumi akan tercapai, semua makhluk dan benda akan dapat terpelihara. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Tiong Young (tengah sempurna) merupakan cita-cita seluruh umat manusia yang harus diwujudkan di dunia ini.[4]
      Dalam kitab ini, disamping membicarakan tentang Tiong Young itu sendiri, juga membicarakan tentang arti agama. Dalam bab utama dari kitab ini dijelaskan bahwa firman Thain (Tuhan Yang Maha Esa) itu dinamakan watak sejati. Hidup mengikuti watak sejati dinamakan menempuh jalan suci. Bimbingan menempuh jalan suci itu dinamakan agama. Dalam ayat selanjutnya (ayat 2) dikatakan bahwa jalan suci itu tidak boleh terpisah sedikitpun dari kehidupan manusia, dan kalau terpisah, ia tidak dapat dikatakan jalan suci maka seorang kuncu (susilawan) berhati-hati kepada Dia (Thian) yang tidak kelihatan dan takut pada-Nya (Thian) yang tidak terdengar.[5]
      Ayat 1 dan 2 dari bab utama diatas, Konghucu tidak hanya bicara mengenai arti agama, namun dia juga bicara tentang Thian (Tuhan Yang Maha Esa). Tuhan ini digambarkan sebagai sesuatu yang tidak terlihat dan tidak dapat pula didengar oleh manusia. Khonghucu juga memberikan isyarat kepada pengikutnya agar sesuatu yang tidak terlihat dan tidak terdengar itu (Thian) haruslah diakui.
      Dalam kitab ini Khonghucu juga bicara tentang kuncu atau susilawan atau gentlemen. Khonghucu dalam hal ini membedakan antara kuncu dengan orang-orang yang rendah budi. Menurutnya kuncu itu hidup dalam tengah sempurna, sedangkan orang yang rendah budi atau tidak bersusila menentang tengah sempurna . seorang kuncu hidup dalam tengah sempurna karena ada yang diseganinya, sedangkan orang yang rendah budi tidak tidak ada satu pun yang diseganinya.[6]
      Disamping bicara mengenai tuhan dan manusia yang susila (kuncu), kitab ini juga membicarakan tentang keperwiraan, ajaran-ajaran etika, keimanan, jalan suci Tuhan Yang Maha Esa, dan hukum-hukum yang ada didalam nya.
c.       Kitab Lun Yu
      Kitab Lun Yu ini juga dikenal sebagai kitab kumpulan atau Lun Gi atu dalam bahasa inggris dikenal dengan The Analects. Kitab ini merupakan kumpulan tulisan yang dilakukan oleh murid-murid Khonghucu setelah beliau wafat.[7] Berbeda dengan kitab Thai Hak dan Tiong Young, kitab ini tidak ditulis bab per bab, tetapi jilid per jilid. Kitab ini dibagi dalam 20 jilid, dan diletakan setelah kitab Thai Hak dan Tiong Young dalam kitab Su Si.
      Secara khusus dapat dikatakan bahwa kitab Lun Yu berisikan hal-hal yang berhubungan dengan pembicaraan dan nasehat yang diberikan oleh Khonghucu yang brkaitan dengan kondisi masa itu. Sedangkan secara umum kitab ini berisikan sebagai berikut:
1
Hak Ji (belajar)
11
Sian Cien (yang maju)
2
Wi Cing (pemerintahan)
12
Gan Yan (nama)
3
Pat Let (tarian atau seni)
13
Cu-Lu (nam)
4
Li Jen (cinta kasih)
14
Hian Bun (bertanya)
5
Kong-Yu Tiang (nama)
15
Wee Ling Kong (nama)
6
Young Ya ( nama)
16
Kwi Si (nama)
7
Sut Ji (penerus)
17
Yang Ho (nama)
8
Thai Pik (nama)
18
Bi Cu (nama)
9
Cu Han (jarang)
19
Cu Tiang (nama)
10
Hiang Tong (kampung)
20
Giau Wat (berkata)
d.      Kitab Bing Cu
      Kitab ini terdiri dari 7 jilid, kitab ini merupakan kumpulan ajaran dan percakapan Mencius atau Bing Cu dalam menjalankan kehidupan masa itu dengan menegakan ajaran-ajaran Khonghucu. Pendirian Mencius adalah mengungkapkan cinta kasih dan kebenaran menebarkan jalan suci, kebajikan, dan mengakui Tuhan Yang Maha Esa (Thian).[8]
      Kitab ini diberi nama kitab Bing Cu, karena bagian pertama dari kitab ini membicarakan Bing Cu menemui raja Hwi dari negeri Liang. Bagian pertama dari kitab ini juga banyak membicarakan Bing Cu dengan raja Hwi. Bing Cu dalam hal menyebarkan dan menjelankan ajaran Khonghucu ke negeri Liang. Tidak mempersoalkan berapa besar materi yang diberikan oleh raja Hwi kepadanya, namun yang ia harapkan hanyalah cinta kasih dan kebenaran. Secara umum dapat dikatakan bahwa sebagian besar kitab ini berisikan pembicaraan Bing Cu dengan para raja yang hidup pada masa itu.
2.      Ngo King (Lima Kitab)
            Di samping kitab Su Si yang telah dijelaskan di atas, umat Khonghucu juga meyakini kitab-kitab  klasik lainnya sebagai kitab suci bagi agamanya.kitab-kitab tersebut adalah Ngo King (lima kitab) dan Hau King (kitab bakti). Pada masa dinasti Han (206-221 M), kumpulan kitab dengan enam buah karya utama ini dianggap telah disusun dan disunting oleh Khonghucu (551-479 SM). Keenam karya utama itu adalah sebagai berikut.[9]:
1.      Si King atau kitab sajak.
Kitab ini berisikan kumpulan sajak atau nyanyian yang bersifat lagu rakyat yang berasal dari berbagai negeri.
2.      Su King atau kitab dokumentasi.
Yaitu kitab yang berisikan teks-teks dokumentasi sabda, pengaturan, nasihat, maklumat para nabi dan raja-raja suci purba. Kitab yang tertua berasal dari zaman sekitar abad ke 23 SM. Dan yang terakhir berasal dari zaman pertengahan dinasti Ciu, sekitar abad ke-6SM.
3.      Yak King atau kitab wahyu tentang perubahan.
Isi kitab ini mengungkapkan kejadian, perubahan, dan segala sesuatu tentang semesta alam, hidup manusia, atau segala peristiwanya. Teks pokoknya ditulis oleh nabi Ki Chiang dan Ciu Kong yang hidup sekitar abad ke-12 SM. Dan penjelasannya ditulis oleh Khonghucu.
4.      Lee King
Yaitu kitab suci yang membahas mengenai kesusilaan dan peribadatan.
5.      Chun Chiu King.
Yaitu kitab yang membahas sejarah zaman Chun Chiu, yang ditulis oleh Konfusius atau Khonghucu beserta tiga kitab tafsir dan penjebarannya.
6.      Hau King atau kitab bakti.
Kitab ini ditulis oleh Cingcu yang mencatat ajaran laku bakti yang diterima dari guru nya yaitu Khonghucu. Kitab ini berisikan makna laku bakti. Serta kewajiban menjalankan nya.
B.     Perbandingan Kitab Agama Khonghucu dengan Kitab Agama Buddha
      Ajaran agama Buddha bersumber pada kitab Tripatika yang merupakan kumpulan khotbah, keterangan, perumpamaan, dan percakapan yang pernah dilakukan sang Budhha  dengan para siswa atau pengikutnya. Kemudian oleh para pengikutnya tersebut di bagi menjadi kepada tiga kelompok besar yang dikenal dengan Pitaka atau keranjang yaitu Vinaya pitaka, Suttra pitaka, dan Abidharma pitaka.[10]
      Walaupun sang guru (Sidarta Gaotama) tidak meninggalkan catatan tertulis tentang ajaran-Nya, murid-murid Nya yang terkemuka melestarikannya dengan jujur secara ingatan dan menurunkannya secara oral dari generasi ke generasi.[11]
      Secara historis of created, kedua kitab ini menempuh cara pengambilan yang hampir mirip yaitu mencatat semua perkataan, nasehat, ataupun peasan-pesan yang pernah dikatakan oleh nabi masing-masing atau yang mereka anggap sebagai panutan bagi mereka. Selain itu secara substansial inti dari ajaran kedua kitab agama ini mempunyai titik persamaan yaitu dalam etika menjalani hidup, konsep ketuhanan beserta bimbingan-Nya. Meskipun dalam beberapa persamaan tersebut kita tidak dapat mempersamakannya secara komperhensif, karena pasti ada perbedaan satu sama lain.
C.    Kesimpulan
      Dari uraian diatas, disimpulkan bahwa kitab-kitab yang dijadikan tuntunan oleh umat Khonghucu, dapat dikelompokan menjadi tiga, yaitu (a) Ngo King, (b) Su Si, (c) Hau King. Dari ketiga kelompok kitab tersebut, yang sering dipakai dalam berbagai macam upacara keagamaan adalah kitab Su Si.
      Adapun jika kita meninjau kepada kitab agama lain misalkan kitab dalam agama Buddha, keduanya memiliki perasamaan yaitu dalam sistem penulisan yang bersumber dari nabi masing-masing. Selain itu kitab dalam agama Buddha juga terbagi kedalam tiga kelompok besar yaitu: (a) Vinaya pitaka, (b) Suttra pitaka, dan (c) Abidharma pitaka. Meskipun secara substansial keduanya terdapat persamaan dan perbedaaan.


[1] Leo Suryadinata, Kebudayaan Minoritas Tionghoa di Indonesia, (Terj). (Jakarta: Gramedia, 1988), hlm: 67
[2] Leo Suryadinata, Kebudayaan Minoritas Tionghoa di Indonesia,.                 
[3] Sutradharma Tj. Sudarman, Menjalani Kehidupan Buddhisme, Confucianisme dan Taonisme, hlm: 177
[4] Ihsan Tanggok, Mengenal Lebih Dekat Agama Khonghucu di Indonesia, Jakarta: Pelita Kebajikan, hlm: 29
[5] Ihsan Tanggok, Mengenal Lebih Dekat Agama Khonghucu di Indonesia, Jakarta: Pelita Kebajikan, hlm: 29
[6] Ihsan Tanggok, Upacara Kematian dalam Masyarakat Cina di Indonesia (Skripsi), Fakultas Ushuluddin.
[7] Sutradharma Tj. Sudarman, Menjalani Kehidupan Buddhisme, Confucianisme dan Taonisme, hlm: 116

[8] Sutradharma Tj. Sudarman, Menjalani Kehidupan Buddhisme, Confucianisme dan Taonisme, hlm: 177
[9] Iwan Fridolin, Cendikiawan dan Sejarah: Tradisi Kesustraan cina, (Jakarta: Fakultas Sastra UI, 1998), hlm: 34.
[10] Mukti Ali, Agama-Agama Di Dunia, (Yogyakarta: PT. Hanindita, 1988), hlm: 112
[11] Sri Dhammananda, Keyakinan Umat Buddha, (Jakarta: Karaniya, 2007), hlm: 88

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar