Kamis, 24 Mei 2012

Takhrij 3 amal yang tidak akan putus


STUDI KRITIS SANAD DAN MATAN HADIS

A.    Pendahuluan
Dalam literatur Islam, dikenal terminologi al-hadits yang sering diberi arti yang sama dengan al-sunnah. Karena itu, kedua kata ini biasa dipakai secara bergantian.[1] Dalam pemakaian yang populer, kata al-hadits, sebagaimana halnya al-sunnah dipahami sebagai perkataan, perbuatan, dan taqrir Nabi Muhammad saw. Al-hadits atau al-sunnah diakui sebagai sumber atau dasar kedua dari ajaran Islam, mendampingi al-Quran. Untuk memahami ajaran Islam dalam segala aspeknya tidak cukup hanya merujuk ayat-ayat al-Quran saja, melainkan harus dilengkapi dengan rujukan al-hadits.
Akan tetapi kalau kita tinjau ulang kembali secara mendalam, dalam hal ini terdapat perbedaan dalam segi periwayatan meskipun keduanya merupakan sumber hukum islam. Al-quran semua periwayatan ayat-ayatnya berlangsung secara mutawatir, sehingga tidak perlu dilakukan penelitian tentang keorisinilannya. Sedangkan hadits tidak secara menyeluruh secara mutawatir karna ada sebagian hadits yang ahad, sehingga diperlukan penelitian, terutama terhadap hadits ahad.
B.     Kegiatan Takhrij
Hadis yang diteliti adalah hadis yang berisi petunjuk tentang “Doa anak shaleh”. hadis yang akan akan dibahas penuliis masalah hadis:
 أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ[2]

Dalam melakukan kegiatan takhrij al-hadits, penulis di samping menggunakan metode takhrij al-hadits bi lafazh (penelusuran hadis melalui lafal), juga menggunakan metode takhrij al-hadits bi al-maudlu’ (penelusuran hadis melalui topik masalah). Untuk kepentingan takhrij al-hadits yang disebutkan pertama penulis merujuk kepada al-Mu’jam al-Mufahras li Alfazh al-Hadits al-Nabawi dan untuk kepentingan takhrij al-Hadits yang disebutkan terakhir, penulis merujuk kepada Miftah Kunuz al-Sunnat. Kedua kitab kamus tersebut disusun oleh Dr. Arnold John Wensinck (w. 1939) dan kawan-kawan.
Dari matan hadis yang dikutip di atas, bila ditempuh metode Takhrij al-hadits bi al-fazh, maka penggalan lafal-lafal (kata-kata) nya yang dapat ditelusuri adalah:
 [3] ﺼﺎﻠﺡ - ﻋﻤﻞ - ﻮﻠﺪ Adapun data yang disajikan oleh kitab al-Mu’jam lewat penelusuran kata  ﻮﻠﺪ  Adalah sebagai berikut:

وَلَدٍ صَالِحٍ :
م   ﻭﺼﻴﺔ ۱٤
ﺪ  ﺃﺤﻜﺎﻢ  ٣٦
ﻦ  وﺼﺎﻴﺎ  ٨
ﺤﻢ  ٢ ٬ ٢٧٢
ﺪﯼ البلاغ ٥٨ 
Adapun usaha penulis dalam menelusuri hadis tentang doa anak shaleh dengan menempuh metode takhrij al-Hadits bi al-maudu’, tidak menemukan hadis diatas setelah melalui penelusuran dari kitab Miftah Kunuz al-hadits. Dengan mencari tema dari
ﺼﺎﻠﺡ - ﻋﻤﻞ - ﻮﻠﺪ.
Berikut ini penulis menggunakan riwayat-riwayat hadis tersebut dari setiap mukharrij berdasarkan naskah aslinya.

Susunan riwayat hadis yang mukharrij-nya Muslim: 
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ يَعْنِي ابْنَ سَعِيدٍ وَابْنُ حُجْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ هُوَ ابْنُ جَعْفَرٍ عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ[4]



Susunan riwayat hadis yang mukharrij-nya Abu Daud:
حَدَّثَنَا الرَّبِيعُ بْنُ سُلَيْمَانَ الْمُؤَذِّنُ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ عَنْ سُلَيْمَانَ يَعْنِي ابْنَ بِلَالٍ عَنْ الْعَلاَءِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أُرَاهُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَه[5]
Susunan riwayat hadis yang mukharrij-nya Ahmad bin Hambal:
حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ أَنْبَأَنَا الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ[6]

Susunan riwayat hadis yang mukharrij-nya Nasai’:
أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ قَالَ حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ[7]

Susunan riwayat hadis yang mukharrij-nya darimi:
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنِي إِسْمَعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ الْمَدَنِيُّ عَنْ الْعَلَاءِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ صَدَقَةٍ تَجْرِي لَهُ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ[8]




[1] Dalam pengertian ini, ‘Ajjaj al-Khathib menyatakan bahwa, secara terminologis, kata hadis adalah sinonim dari kata sunnah. Keduanya diberi arti “segala sesuatu yang diambil dari Rasul SAW. baik sebelum maupun sesudah diangkat menjadi Rasul”. Lihat M. ‘Ajjaj al-Khathib, Ushul al-Hadits, Terj. HM. Qodirun Nur dan A. Musyafiq, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1998), hal. 8.  Lihat juga Shubhi al-Shalih, ‘Ulum al-Hadits wa Mushthalahuh, (Beirut: Dar al-‘Ilm Lil-Malayin, 1988), hal. 3. 
[2] Abu Husain Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi (selanjutnya disebut sebagai Muslim), al-Jam’ al-Shahih (Shahih Muslim), Maktabah Dahlan, Indonesia, (tth), Juz I, h 1255.
[3] A.J Wensinck, Tarjamah oleh Muhammad Fu’ad Abd al-Baqi, al-Mu’jam al-Mufahras, Juz VII, h. 314
[4] Abu Husain Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi (selanjutnya disebut sebagai Muslim), al-Jam’ al-Shahih (Shahih Muslim), Maktabah Dahlan, Indonesia, (tth), Juz I, h 1255.
[5] Sulaiman bin al Asy'ats bin Ishaq bin Basyir bin Syadad (Abu Daud), Sunan Abu Daud, Maktabah Dahlan, Indonesia, (tth), Juz II, h 1285.
[6] Abd ‘Abd Allah Ahmad bin Hanbal (selanjutnya disebut Ahmad bin Hanbal), Musnad Ahmad bin Hanbal, al-Maktabah al-Islami, Beirut, Juz III, h 35.
[7] Ahmad bin Syu’aib bin Ali bin Sinan bin Bahr (Nasa’i), Sunan Nasa’I, al-Maktabah al-Islami, Beirut, Juz II, h 75.
[8] Abdullah bin Abdurrahman bin al Fadhl bin Bahram bin Abdush Shamad (ad-Darimi), Sunan ad-Darimi, al-Maktabah al-Islami, Beirut, Juz VI, h 145.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar